Posted by: uniquecollection | April 11, 2009

Koleksi Perangko Langka (1)

PENGANTAR Buku ini berkembang dari koleksi pribadi penulis yang dimulai dari tahun 1957 -1972 yang umunya merupakan hadiah dari para pendeta Italia yang baru saja pindah dari Tiongkok akibat desakan komunisme seperti pastor Ganizaro , pastor Linni, Uskup Bergamine, Pastor Stefano Coronese, Bruder Nocenti. Koleksi ini adalah koleksi pertama penulis yang disusun tanpa adanya petunjuk, lebih banyak berdasarkan gambar yang indah-indah seperti tema alam antara lain binatang dan bunga khususnya dari Swiss , juga perangko Italia dan Vatican yang umumnya dari tahun 1950-1970 dengan berbagai tema gereja katolik dan pelukis –pelukis antara ai Leonardo da Vinci. Setelah itu mulai tukar-menukar prangko dengan Sdr Wanadi (Liem ) saat ini Pastor di Jakarta , perangko amal dari Swiss (Helvetia) dari pastor Wanadi masih ada dalam koleksi Swiss yang hampir lengkap, karena pada tahun 1985 saya berkesempatan memperoleh satu koleksi ari almarhum Tjia Wie Hien dari anaknya(saat ini almarhum) karena penderita polio ini ingin membeli Mobil kecil sebagai alat tranpostasi, almarhum dulunya kerja di Pabrik semen Indarung yang banyak komunikasi dengan Swiss. Koleksi pribadi penulis mulai ditata berdasarkan negara dengan pedoman katalogus Yver dari Perancis, dari negara Belanda diperoleh dari kolektor tua almarhum Gho Koen Sia yang dilengkapi dengan koleksi Tjia Wie Hien , Negara Inggris dan Koloni dari Almarhum Oh Tai Hien dilengkapi koleksi dari kedua kolektor yang terdahulu, sayang koleksi almarhum Gho Kong Liang tidak diperoleh penulis sebab diambil cucunya. Selama penulis praktek sebagai Co-assisten kedokteran Di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo Jakarta antara tahu 1971-1972, barulah diperoleh banyak informasi dari paman penulis almarhum drs A.R. Abdisa seorang kolektor perangko guna membantu orang-orang tua yang mengalami kesulitan fiansial sampai saat ini koleksi tersebut masih disimpan anaknya untuk kenangan ayahnya. Almarhum Paman Abdisa memberikan katalog yvert lama tahun 1970, dan mulailah penulis mempelajari jenis prangko langka berdasarkan harga katalogus tersebut kendatipun masih sulit memahaminya karena katalog tersebut dalam bahasa perancis. Untuk meningkatkan pengetahuan filateli, setiap ada waktu terluang penulis ketoko buku Gunung Agung melihat harga perangko yang dijual disana, saat itu penulis bertemu dengan seorang Bapa dari Solo yang juga mencari perangko, terjalinlah persahabatn filatelis sejati pertama , ia meminta penulis mencarikan pprangko tema flora dan fauna. Mulailah penulis berburu prangko baik dari lapak sampai pedagang prangko didepan kantor pos Pasar Baru seperti almarhum Mpek Kok Sioe di pasar Bulan jalan Hayam Wuruk seorang dengan tangan cacat tanpa jari memilah perangko dengan pisau , pamannya Beng Hoei yang kemudian meneruskan bisnis pamannya tetapi saat ini katanya jadi paranormal dan disana bertemu dengan beberapa pedagang filateli seperti Soesantio , almarhum Tjoa Mangga Besar , almarhum Chatib,almarhum Usman dari tanjung Priok dan Tambi didepan kantorpos Pasar baru saat ini sudah menjadi museum filateli, dimana transaksi filateli masih tetap ada walaupun suasananya sudah banyak berubah dimana harga prangko sudah didasarkan harga katalogus berkisar 70% sampai 10 % . Dulu perangko dapat dipilih dengan harga mulai 5 rupiah per biji yang naik terus jadi 100 rupiah, kemudian 300 rupiah, akhirnya seribu rupiah dan saat ini sudah ada yang 10.000 rupiah sampai seraturs ribu rupiah per biji, malah pah Hengky bisa 300.000 sampai 700.000 rupiah per biji. Setelah penulis menyelesaikan pendidikan kedokteran dan menjalani pendidikan dasar militer di Lanuma Panasan Solo sebagai Perwira Wamil ABRI bagian Kepolisian ( saat itu Polisi termasuk ABRI). Pada saat ke Gereja di Solo hari minggu, penulis mencari teman filatelis Bapa dari Solo , ternyata ia adalah seorang pendeta Methodist, saya sangat berterima kasih padanya, karena motivasi dan kebaikan hatinya yang selalu mentraktir penulis makan Mie di gang Kelinci Pasar Baru dan membeli perangko dengan harga yang lumayan buat tambah belanja karena biaya kuliah dari orang tua pas-pasan. Pendeta dari Solo ini memperkenalkan pebulis dengan saudaranya seorang apoteker , dan membeli beberapa perangko khususnya perangko Belanda dan Hindia Belanda dengan stempel khusus dengan nomor dan titik-titik, merupakan kode nomor kantor pos, sebab menurut almarhum AR Abdisa stempel pos jenis ini langka,mulailah penulis mengumpulkan stempel pos langka, sebagai nbagian dari koleksi Postal History. Susantio seorang pedagang filateli senior yang begitu cinta prangko sampai umur tua baru menikah yang masih aktif saat ini tinggal di Lasem katanya ia bisnis sarang burung Walet, ia memperkenalkan penulis dengan ketua filateli saat itu dr Nelwan, almarhum Tung Kim Tek, almarhum ex ketua filateli Indonesia Laksmana Suryadarma. Pada saat itu pada tahun 1971, penulis membuat sebuah kenangan filateli pada peta” Djakarta” saat ulang tahun 444 tahun Jakarta dengan menempelkan perangko peringatan 444 tahun Jakarta diatas peta dan meminta kantor pos di Jakarta memberiakn stempel pos, perjalanan bersejarah itu dimulai dari kantorpos Jatinegara jam 8.00 pagi dengan naik Bus Kota kebeberapa kantor pos seperti kantor pos UI Kramat, Salemba Tengah, Kantor Pos Pasar Baru (saat ini jadi Musuem Pos dan area dagang filateli ), Kantor Pos Jakarta Pusat didepan Stasiun Kerata Api , perjalan dilanjutkan Ke Kantor Pos Tanjung Priok, dan akhirnya setelah melalui jalan by pass yang cukup panjang akhirnys sampai di Kantor Pos Pasar baru, setelah itu langsung menuju Taman Ismail Marzjuki jalan cikini dimana secara sembunyi memberikan stempel peringatan pameran filateli 444 tahun Jakarta karena dilarang oleh dr Nelwan sang Ketua PFI. Beberapa tahun kemudian, barulah penu;lis dapat kesempatan memperoleh tanda tangan Ex Gubernur DKI almarhum Bang Ali diatas pesawat terbang saat ia menjadi ketua PSSI, membawa rombongan sepakbola dari Padang Ke Jakarta, tuntaslah sudah kenangan-kenangan ciptaan penulis yang hanya ada satu-satunya didunia karena saat ini tidakmungkin menjumpai seluruh kantor pos diJakarta dalam satu hari dengan transportasi Bus Kota , akibat kemacetan yang luar biasa. Setelah menyelesaikan pendidikan Perwira Wanil ABRI, penulis bertugas di Tanah kelahiran Sumatera Barat, selama kurun waktu yang cukup lama 1973-1989. Kesibukan tugas menyebabkan penulis sulit mem-peroleh tambahan koleksi prangko , juga disebabkan kolektor prangko di Sumatera barat hampir seluruhnya adalah Kolektor senior dan seluruh koleksi mereka telah menjadi milik Penulis dengan berbagai upaya transaksi yang cukup alot, salah satunya koleksi surat-surat masa perjuangan kemerdekaan RI dan masa pendudukan Jepang dari keluarga Almarhum Soewil mantan kepala kantor pos Painan dan Teluk Bayur , yang akan dibahas tersendiri dalam buku Dai Nippon Sumatra dan Indonesia Independence Revolt ditulis dalam bahasa Ingris karena umumnya yang berminat orang asing, tetapi bila banyak permintaan dari dalam negeri seperti buku ini, maka akan diterbitkan edisi bahasa Indonesianya. Pada tahun 1985 , saat Jepang mengalami surplus ekonomi yang laur biasa, perangko Pendudukan Jepang menjadi booming peristiwa yang sama dengan prangko Cina tahun 2005. Penulis sangat berterima kasih kepada Oom pemilik toko perangko Go Go di jalan Braga Bandung karena ia mengizinkan penulis memfotokopi kalatlogus lelangan perangko pendudukan Jepang dan Revolusi RI dari Esbensen. Bermodalkan informasi ini penulis mulai berkontak ke manca negara, sehingga pengetahuan postal historynya menjadi sangat meningkat, dan berburu prangko jadi lebih profesional dan mampu memiliki koleksi yang cukup memukau, sehingga berbagai pedangang dan kolektor mancanegara menghubunggi penulis antara lain Mr.P.R.Bulterman yang berdasarkan beberapa informasi dari Penulis telah menerbiskan Katalogus Postal stationer Pendudukan Jepang dan Revolusi Indonesia, almarhum Tom Bleeker ,almarhum V.sbensen yang telah menerbitkan katalog lelangan perangko revolusi Kemerdekaan Indonesia, dan terakhir beberapa koleksi penulis berpindah tangan kepada mereka , terutama Sdr Karel yang beberapa tahun yang lalu telah menjualnya kepada kolektor dari Amerika dan Belanda. Kopi Informasi dari koleksi tersebut masih ada pada penulis sehingga masih dapat dijadikan dasar pebulis. Selama masa pendidikan S2 Administrasi RS tahun 1989-1990, I menemukan banyak teman filatelis di kantor pos Cikini seperti almarmum Oom Tjia, Suwaito , Ir Untung ,Adidarma ,Siagian , dan pedang perangko seperti Dani, Mamat dan Almarhum Pak Ridwan Pada saat ini penulis memperoleh banyak tambahan koleksi masa pendudukan Jepang dan revolusi dari Pulau Jawa baik dari lapak rel kereta api Menteng jl cik di Tiro ( saat ini sudah digusur) dan Salemba tengah (saat ini juga sudah digusur). Setelah purnawira alias pensiun dari pekerjaan tahun 2001, sesuai dengan hobbi penulis kedua Travel alias Keliling Dunia, mulailah dilakukan perjalanan menelusuri benua Asia, yang saat masih aktif tidak memungkinkan, karena sebagai anggota ABRI sulit mendapat izin keluar negeri kecuali perjalanan dinas seperti Ke Serawak dan Bangkok Thailand dimana saat itu juga ditemukan sejumlah koleksi prangko dan postal history. Kendatipun demikian pada saat akhir tugas penulis memperoleh kesempatan sesuai dengan jabatannya, keliling Indonesia termasuk ke Timor Leste saat jajak pendapat, koleksi unik yang ditemui akan dibahas dalam buku tersendiri “Travelling unique collections” dalam bahasa Ingris sesuai permintaan para sahabat manca negara. Dalam perjalanan keluar negeri seperti di kompleks pertokoan Serawak, mal stasiun Kereta Api Kuala Lumpur, Toko filateli Mr Lithay World trade center Bangkok, juga pada perjalanan terakhir di Sarawak bertemu mr Chan Kei Teck & Dr Ng Wu cs, Kota Kinibalu Sabah(ex North Borneo), Kamboja di Pasar Rusian Mr Oke , Saigon, Hanoi, South China Nanning, QianChou-Xianmen , Baejing , Seoul korea, mungkin tahun mendatang ke Afrika, Eropa dan Amerika. Penulis mulai menulis buku ini mulai tahun 2000, dengan judul “Around the World with unique thematic stamps” dan banyak teman membantu penulis sepert Ir Untung, Mr Erry Hutabarat, Haris siregar, putra almarhum Ghazali Nasution,Udin ,Mamat,Mr Hengkie, Arista Jogya dan sebagainya. Saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh teman-teman filateli , karena tanpa bantuan mereka koleksi penulis tidak akan berkembang , selain itu juga terima kasih kepada isteri dan putra penulis karena tanpa bantuan mereka buku ini tidak akan terwujud, terutama atas usulan Anton J.S. agar diterbitkan edisi buku bahasa Indonesia , karena menurut evaluasi pengunjung blokker penulis “Unique Collections by Dr Iwan S.” Saat ini 70 % terutama dari Indonesia, berarti minat koleksi dari Indonesia mulai bertambah, tetapi minat buku masih tinggi dari edisi bahasa Inggris lebih dari 80%, edisi ini edisi percobaan bila minat cukup tinggi maka seluruh buku penulis akan diterbitkan edisi bahasa indonesianya. Penulis menyadari sebagai seorang kolektior , karya tulis ini sangat banyak kekurangannya sehingga komentar dan koreksi pembanca terutama pengunjung blkker internet sangat diharapkan agar dapat tercipta karyatulis sesuai standar . Besar harapan penulis agar buku ini dapat dijadikan pedoman bagi transaksi tukar-menukar dan dagang prangko di Indonesia, karena saat ini banyakmpedagang masih mematok nilai investasi 70 % katalogus standar sedangkan diluar negeri hanya 30 % , malah dari negara yang kurang populer seperti Indonesia hanya 10% katalogus standard. Bagaimanakah situasi di Indonesia, menurut pengamatan penulis masih rendah, nilai 10 % katalogus standard secara borongan masih susah terjadi transaksi, apabila pilihan mungkin penulis masih berminat untyuk negara populer. Estimasi penulis dari nilai investasi koleksi prangko langka yang tercantum dalam buku ini hanya untuk prangko dengan kualitas gigi,gambar dan warna yang bagus terutama bila masih terlekat pada sampul surat yang benar-benar terpakai lewat pos dengan stempel pos yang jelas tidak kotor, bila dibawah standar tersebut nilainya tinggal satu sampai 10 US Dollar saja, dipatok dengan kuurs dollar karena nilai Rupiah masih mengambang sehingga sulit untuk dijadikan pedoman. Buku Koleksi prangko langka akan memberikan kolektor banyak informasi tentang sejarah dunia dan negara penerbit prangko tersebut terutama mengenai sejarah Nasional. Kebiasaan manusia, perkembangan ilmiah, keadaan alam dan pertandingan Olah raga. Sehingga memiliki prangko seakan-akan anda telah mengilingi dunia . Pondok Gading , Jakarta,April 2009 Dr Iwan S.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: